INDOVISION

Indovision Sales Website

AJANG GELAK TAWA

gif

TOTAL KUNJUNGAN

MY VISITORS

Blog Archive

Tampilkan postingan dengan label kumpulan coretanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan coretanku. Tampilkan semua postingan

Bahaya Laten Copas... Waspadalah !! Waspadalah !!

Written By Kang Soegie on Kamis, 29 Agustus 2013 | 11.36

Ah… akhirnya setelah sekian lama tidak bisa posting --ups, bukan tidak bisa, tapi tidak mampu, karena ngeblank ketiada’an ide-- akhirnya Kang Soegie, bisa juga menulis di sini.

Sekian lama Kang Soegie tidak menulis, sekian lama itu pula kemampuan untuk menulis yang dimiliki Kang Soegie yang cuma alakadanya ini --bahkan tiada seujung kuku sekalipun-- benar-benar hilang seolah menguap dan pergi entah kemana seperti embun pagi yang hilang diterpa sinar mentari.

Kang Soegie akui, selama Kang Soegie tidak posting disini, sebetulnya Kang Soegie memang masih sempet dan nyempetin untuk ngepost di beberapa blog yang Kang Soegie gawangi seperti Movie Mania, dan Gudang Humor. Tapi apa yang Kang Soegie tulis disana, cuma benar-benar mengandalkan copas alias copy paste. Yah… gak copas-copas banget sich, karena nurani dan hati kecil Kang soegie yang paling dalam mengatakan kalau ngepost copas milik orang lain adalah sebuah perbuatan yang tidak bermanfaat sebetulnya, tapi karena Kang Soegie malas dan gak mau mikir ribet-ribet --cieee, pembelaan-- postingan-postingannya ya Kang Soegie edit walaupun editnya cuma dikit-dikit. Dan memang, bahaya kebiasaan copas itu sungguh benar-benar berbahaya. Bukan cuma merugikan orang yang punya tulisan yang kita copas, tapi membahayakan buat kita sendiri juga. Hal Ini Kang Soegie alami sendiri effect berbahaya dari copas itu, yaitu semakin sering kita copas, maka kreatifitas kita dalam menulis pun semakin berkurang malah semakin hilang dan hilang…

Padahal ketika Kang Soegie lagi rajin-rajinnya belajar menulis menuangkan ide-ide yang ada di kepala walaupun memang random dan acak-acaka’an, tetapi ide-ide tersebut selalu aja ada dan ngalir, hingga Kang Soegie dengan bangga bisa menghasilkan beberapa tulisan walaupun memang jauh dari kata bagus dan rapih.

Tapi tetap saja Kang Soegie cukup bangga dengan apa yang telah Kang Soegie hasilkan tersebut karena memang itu adalah betul-betul dari hasil karya sendiri, --biasa kan, apapun itu, kalau punya sendiri bisa sejelek apapun tapi bisa menimbulkan kebanggaan untuk kita, hehehehe-- bukan hasil dari ngejiplak dari orang lain.

Dan mendapati kenyataan bahwa kemampuan menulis Kang Soegie yang sudah sangat-sangat alakadarnya ini lenyap hilang entah kemana karena sudah keenakan dengan kebiasaan main ambil dan cuma edit dikit-dikit, dengan ini Kang Soegie mencoba membuat ketetapan di hati dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak main copas-copas lagi. Kang Soegie akan selalu berusaha untuk memposting tulisan yang benar-benar hasil tulisan sendiri. Dan kalaupun memang ada bahan tulisan yang menarik dan merasa pantas untuk Kang Soegie posting disini, maka akan Kang Soegie edit sedemikian rupa dengan bahasa Kang Soegie sendiri ^_^

Dan lalu buat sahabat-sahabat, gak mau kan mengalami apa yang Kang Soegie alami akibat dari ngoyo pengen posting tapi ngeblank hingga akhirnya nekad dan copas dari postingan punya orang lain lalu di edit dikit-dikit dan akhirnya menjadi kebiasaan yang sedikit agak sulit untuk ditinggalkan ? :p Kalau memang gak mau, jangan sekali-sekali untuk mencoba copas dan kalau sudah terlanjur terbiasa, yuk kita pelan-pelan asah kembali kebisaan/ketrampilan kita dalam menulis dengan meninggalkan kebiasaan kita copas… Cia Yo… :D :D
11.36 | 1 komentar | Read More

Nak, Maafkan Bapak... (Fiksi)

Written By Kang Soegie on Sabtu, 15 Juni 2013 | 00.39

"Cerita ini hanya fiksi belaka. apabila ada kesamaan kejadian, itu cuma kebetulan saja."

Aku, seorang pria berumur 43 tahun dengan 3 putra dan putri. Tanpa seorang istri yang menemani hari-hari dalam menjalani hidupku. Dia telah pergi banyak tahun lalu saat diriku terpuruk dalam kebangkrutan. Dia pergi untuk mencari kebahagiannya sendiri.

Puji syukur Alhamdulillah, dalam tempaan hidup yang diasuh oleh seorang single parent seperti diriku yang cuma seorang penjaga malam, ketiga putra dan putriku tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Setidaknya menurut penglihatanku.

Menjadi penjaga malam, kujalani untuk menopang ekonomi keluargaku. Kulakukan itu, walaupun dengan penghasilan yang cuma segitu, ya... segitu. Aku tak punya keterampilan lain selain mengandalkan kerja dengan tubuh sebagai modal utamaku. Yah, tak apalah... yang penting halal dan tidak keluar dari norma-norma keadaban.

oOo

Dulu,... ya dulu, pernah kurasakan juga percik-percik kesuksesan secara materi. Dimana uang, buka lagi hal utama yang dipermasalahkan. Hidupku berkecukupan, aku mampu. Mampu menghidupi istri dan anak-anakku dengan 'layak' dari hasil kerjaku sebagai pengusaha kecil-kecilan di desaku.

Dan tujuh tahun lalu, karena satu dan lain hal --yang pasti karena ketidak-mampuanku--, usahaku terkena imbas dari resesi ekonomi yang kala itu melanda negeriku. Usahaku bangkrut, gulung tikar. Hartaku ludes, tatanan ekonomi keluargaku hancur, berantakan, berceceran, tinggal puing-puing yang berserakan.

Istriku tidak tahan hidup serba kekurangan. Tidak mampu untuk hidup penuh dengan tatapan sinis tetangga-tetanggaku --menurutku, itu cuma perasaan istriku saja saat itu--, dan lalu karena ketidak-tahanannya itu dia menyerahkan hidup ketiga anak-anakku yang juga anak-anak istriku untuk aku rawat sendiri. Sementara dia pergi, pergi mencari penghidupan lain, mencari kebahagiaan lain.

Sontak aku makin terpuruk saat itu. Sudah jatuh tertimpa tangga, pas mencoba bangkit terantuk batu pula.

Aku rapuh, aku ringkih. Duniaku serasa gelap-gulita tiada pelita. Oh dunia, betapa kejam kurasa.

Keterpurukanku memang menggoncangkan jiwaku. menghancurkan hatiku, tapi disisi lain menempa hidupku.

Aku sadar, aku harus bangkit. Aku harus berdiri. Membenahi hidupku. Membenahi sisa-sisa keluargaku. Ada 3 anak yang butuh perhatianku, butuh bimbinganku. Mereka anak-anakku. Darah dagingku, generasiku dan juga hati dan jiwaku.

Sesaat setelah tersadar bahwa aku harus bangkit, akupun memutuskan untuk pergi merantau ke kota. Mencari peruntungan disana, mengadu nasib, berjuang untuk kehidupanku dan ke-3 anak-anakku. Ke Jakarta tujuanku, kota besar kota metropolitan, kota berkilau penuh sinar, menawarkan berjuta harapan. Ke Jakarta tekadku cuma satu, cari uang yang banyak untuk membiayai anak-anakku, dan membayar hutang-hutang bekas bisnis kecil-kecilanku yang ambruk karena ketidak-mampuanku.

oOo

Dan enam tahun lalu, untuk pertama kalinya kupijakkan kaki di kota itu. Kota metropolitan. Kota indah warna-warni penuh gemerlap. Yang ternyata kehidupannya tiada seindah dalam pendangan, tiada semudah dalam pengharapan.

Sementara anak-anakku aku titipkan pada kerabat di kampung yang masih mau berbaik hati merawat meraka, di kota aku mulai balajar menjalani hari demi hari berjuang untuk meraih sejumput harapan walau tanpa bekal apapun yang kupegang. Cuam niat kuat cuma tekad bulat, bahwa aku dan anak-anakku harus hidup.

Hari demi hari kulalui, saat demi saat kujalani, kuberkutat, kubergulat, dengan kerasnya persaingan hidup dikota, dengan getirnya kehidupan disana yang waktu itu aku rasa. Pekerjaan apapun aku jalani, demi untuk mendapatkan keping-keping rupiah, untukku, untuk anak-anakku dan untuk melunasi hutang-hutangku. Dari mulai jadi kuli dipasar, jadi tukang parkir dadakan bahkan sampai jadi prema terminal.

Kerasnya kehidupan makin menempaku, makin menggemblengku, hingga lambat-laun tanpa kusadari kubermetamorfosa menjadi sosok yang dingin tiada berperasaan, yang ada dalam benakku cuma harta dan benda. Tapi pada anak-anakku aku masih ingat mereka.

Uang hasil kerja kerasku dikota tiada sedikitpun aku pakai untuk foya-foya, misal main perempuan untuk melampiaskan hasrat biologisku sebagai seorang laki-laki normal yang dewasa. Aku terlalu kikir untuk membeli seorang pelacur yang mau memuaskan hasratku ketika libidoku sedang naik tinggi. Aku cukup bermain dengan tangan sendiri, itu sudah cukup memuaskanku, uangnya biar kusimpan demi anak-anakku, demi untuk membayar hutang-hutangku.

Hingga pada suatu ketika, aku bertemu dengan dia...

oOo

Dia sering memarkirkan mobilnya di tempat aku bekerja sebagai tukang parkir. Entah apa urusannya, tapi tak kurang dari 2 atau 3 hari dalam seminggu dia pasti datang ke ruko itu dan memarkirkan mobilnya di pelataran parkir yang aku jaga.

Semula aku tidak pernah peduli dan memperhatikannya, tapi dia orangnya ramah, sering tersenyum dan seringkali menyapaku. Itu yang membuat diriku sedikit demi sedikit mengenalnya diantara ratusan mobil yang sering parkir ditempat tersebut.

Tak jarang dia sering mengajakku untuk sekedar ngopi sambil ngobrol-ngobrol kecil di warung kopi kaki lima yang ada di dekat parkiran itu. Sepertinya dia tak sungkan untuk bergaul dan ngobrol-ngobrol dengan orang-orang pinggiran macam aku.

Kami banyak bercerita, dan ternyata dia berasal dari ibu kota kabupaten di mana desaku bernaung. Aku seperti mendapat saudara, yah betapa tidak, meskipun hakikatnya tempat asal kami posisinya berjauhan, tapi setidaknya aku merasa bahwa kami berasal dari satu daerah yang sama.

Dan pada malam itu, dia mengundangku untuk bermain ke suatu tempat yang katanya tempat berkumpul orang-orang dari daerah kami. Tempat semacam pertemuan paguyuban orang-orang satu daerah. Aku sangat senang sekali menerima undangan itu, betrapa tidak, aku akan berkumpul dengan saudara-saudara sedaerahku, satu kampung halamanku. Meskipun aku cuma seorang pekerja serabutan yang mengerjakan segala apapun yang aku mampu, tapi berkumpul dan berbagi pengalaman dengan saudara-saudara sedaerahku memang suatu penghargaan besar untukku.

Tapi ternyata tempat itu tidak pernah ada, teman-teman sepaguyubanpun tiada pernah ada, dia berbohong padaku, dan pada malam itu, ya pada malam itu --aku masih ingat betul malam itu... karena malam itulah pertama kali aku merasakan hal yang sebelumnya secara nalar tiada pernah terbayangkan olehku--, diiming-imingi dengan sejumlah uang, dia menjamah diriku, menyentuh tubuhku. Aku sempat mau berontak, la wong dengan tubuhku yang meskipun tidak begitu tinggi tapi gempal, aku punya banyak tenaga kuat untuk berontak, untuk meronta, untuk menolak, tapi setumpuk uang itu menggodaku. Aku seorang laki-laki dewasa yang sudah tidak aneh lagi dengan permainan asmara tapi pada saat itu sontak ku menjadi lugu dan cuma bisa diam trepaku menerima perlakuannya itu. Badanku gemetar, tubuhku menggigil, keringat dingin dengan deras membasahi tubuhku, tapi bukan karena rangsangan birahi yang dia serbukan saat itu.

oOo

Kejadian malam itu memberi aku sebuah pelajaran yang pada saat itu menurutku berharga. Otakku yang kala itu sudah money minded, membuatku berfikir, oh inikah salah satu cara mendapatkan uang dengan tidak harus suasah payah di kota sebesar Jakarta ? dengan cara menggadaikan tubuhku pada mereka, para pemburu kenikmatan dengan cara yang berbeda. Meskipun nantinya diriku tiada ubahnya seperti mereka para kupu-kupu malam yang sering lalu lalang di depan mata.

Dia sepertinya menyukaiku, dan meskipun pada saat pertama kali dia menyentuhku aku tak memberikan respon apapun selain diam membatu, dia masih mencoab mengajakku. Yang tentunya dengan iming-iming sejumlah uang sebagai pemanis madu. Dan kumulai ikuti permainan itu. Kumulai menikmati, kumulai merasai, sentuhan-sentuhan birahi dan tentunya ada yang lainnya lagi yaitu materi. Kepuasanku double rasanya, selain ku bisa melampiaskan hasrat biologisku yang selama ini tersalurkan cuma lewat tangan sendiri, kini juga bisa medapatkan sejumlah materi. Bagaimana tidak happy???

Waktu terus berlalu, hari pun terus maju, berita cepat tersebar dan kabarpun cepat menebar, menebar ke segenap penjuru hingga akhirnya kujalani hari-hariku sebagai lelaki pemuas nafsu. Hahahahahaha... dan ternyata banyak lelaki yang kelihatannya laki-laki tapi justru begitu menikmati tubuhku yang sedikit tambun berbulu.

Tapi, meskipun aku sudah tidak terlalu harus bekerja keras dalam mencari keping-keping rupiah, tinggal menunggu panggilan dari pelanggan yang dengan suka ceria menyewa tubuhku, iritku tetap aku pertahankan, hematku tetap aku jalankan. Pokoknya motivasiku cuma satu, setelah uang terkumpul, aku pualng ke kampung dan kuakhiri petualanganku.

Yah, Tuhan memang Maha Pengasih. Dia mendengar do'a-ku. Cuma berselang sekitar 7 atau 8 bulan sejak aku menjalani profesi dengan wiraswasta body, uangku sudah terkumpul lumayan cukup untuk membayar hutang-hutangku dan bekal memulai hidup baru di kampung, akupun segera pulang, aku sudah sangat rindu sama anak-anakku. Kutinggalkan kehidupan kota yang garang, ganas, kejam tapi melenakan. Lalu berakhirkah petualanganku?

oOo

Kini ku hidup tenang dengan ke-3 anakku. Yang sulung sudah mulai beranjak remaja. Dia sudah sekolah di SMA kelas 2. Sebentar kemudian dia tumbuh menjadi pemuda. Aku, oleh kerabat-kerabatku di jodohkan dengan seorang perempuan asal desa sebelah. Tapi kami masih menjalin hubungan sebagai 'pacar' --aduh, layaknya abg seumuran anakku, aku pacaran--, aku masih belum berani meminangnya untuk kujadikan sebagai istri. Anak-anakku dan kerabat-kerabatku sebetulnya sudah sering menghimbauku untuk segera meresmikan hubungan kami ke jenjang rumah tangga. Tapi aku masih menahannya. Alasanku ekonomi keluarga belum cukup mapan betul untuk membina bahtera rumah tangga.

Benarkan itu alasan yang utama? Bukan... bukan itu... Kehidupan yang sempat aku jalani di kota, ternyata tidak dengan mudah bisa aku lupakan, tidak dengan gampang bisa aku tinggalkan. Semua hal tersebut terus membekas di benakku, terus menggangu pikiranku, membayangi hidupku. Selalu kutahan tapi senantiasa makin menerjang. Aku selalu rindu sentuhan itu, aku selalu inginkan lagi cumbuan itu. Sentuhan, cumbuan, dari mereka-mereka, para lelaki yang dulu sering menjamah tubuhku.

Dan lalu diam-diam, aku mulai mencari pelampiasan...

oOo

Nak, ingin rasanya bapak ungkapkan semua ini... kegamangan bapakmu, kegundahan bapakmu, ketiada kukuhan bapakmu hingga bapak berbelok arah. Tapi bapakmu tidak sanggup mengungkap semua ini... tidak akan pernah sanggup, sampai kapanpun, pun sampai kamu mungkin bisa memahami keadaan bapak, kondisi bapak... bapak akan simpan semua ini. Sampai nanti... sampai mati...

Nak, maafkan bapak...

oOo
00.39 | 0 komentar | Read More

My 2nd First Experience

Written By Kang Soegie on Sabtu, 11 Mei 2013 | 16.40

My second first experience... 

Sebentar... koq sepertina kacau yach tatanan kalimatnya... Second tapi first... Yach, kacau ini... kacau... sangat-sangat kacau... gimana bisa, second tapi first... gimana ituh ? artiannya apa ?

Ach, embuh lah... yang jelas maksud Kang Soegie disini adalah pengen berkisah tentang pengalaman pertama Kang Soegie untuk yang seri ke dua. Nah loh... pengalaman pertama tapi koq seri ke dua. Kacau lagi nich.

Gak... gini maksudnya... kisah yang akan diceritakan oleh Kang Soegie kali ini adalah Pengalaman Pertama Kang Soegie yang lainnya. Nha yang ke-satu kan My 1st Experience pada saat naik Busway yang pernah di posting banyak hari yang lalu, nha kali ini adalah kisah My 1st Experience dalam mencoba hal baru lainnya.

Sebelum Kang Soegie berkisah, Kang Soegie mau tanya dulu, Siapa diantara kalian yang belum pernah naik pesawat terbang ? pasti hampir semua orang pernah naik pesawat terbang kan ?. La wong sekarang udah bukan hal yang istimewa lagi bepergian dengan pesawat terbang. Udah umum, dan saking umumnya, bahkan, pasti akan ada yang nyeletuk, "Haree gini' belum pernah merasakan naik pesawat terbang ??? cabe deeecchhhhhh !!!!", iya kan ? iya kaaannn ???

Di jaman sekarang, dimana moda transportasi bernama pesawat terbang, sudah bukan barang mewah lagi. Tidak seperti jaman dulu, yang mana yang bisa naik pesawat terbang itu cuma terbatas untuk orang-orang sugih (kaya), sekarang, dengan tarif yang ditawarkan maskapai penerbangan yang nyaris sangat terjangkau untuk semua kalangan, semua orang bisa bepergian dengan naik pesawat terbang.

Tapi... nah ada tapinya. Ini serius loh... beneran serius... Kang Soegie, seumur-umur, dari mulai kecil lucuk imut-imut ( :p ) sampai sekarang sedewasa ganteng gini (cie... cie...cie... mujih dirih sendirih...), belum pernah sekalipun merasakan naik pesawat terbang.

Sampai hari ituh...

Yach, hari ituh... Betul, hari ituh... Kang Soegie berkesempatan untuk merasakan "Pengalaman Pertama" naik pesawat terbang. "Pengalaman Pertama, men... pengalaman pertama..."

Frenz, namanya 'Pengalaman Pertama", semua apapun yang berkaitan dengan "Pengalaman Pertama", pastinya akan meninggalkan kesan yang mendalam, iya gak ? pasti iya kan ? gak percaya ? coba dech kalian ingat-ingat lagi bagaimana kesannya ketika kalian melakukan sesuatu yang menjadi "Pengalaman Pertama" bagi kalian, apapun itu. Excited bukan ? :p

Nha demikian juga dengan Kang Soegie. Karena naik pesawat itu adalah "Pengalaman Pertama" dalam hidup Kang Soegie, maka Kang Soegie merasa sangat excited sekali. Saking excitednya, sampai-sampai Kang Soegie seperti orang culun bin norak. Clingak-clingak di bandara sambil nenteng-nenteng selembar boarding pass yang Kang Soegie jaga dengan segenap jiwa dan raga. Ngintil di belakang rombongan banyak orang karena takut kesasar --mungkin, kalau yang dikuntiti nyadar, mereka pasti akan bilang, "ni orang, ngapain juga ngintil-ngintil terus... jangan-jangan, jangan-jangan, oohh tidaaaakkkkkk.."--. Tiada hentinya kirim BBM ke temen-temen untuk sekedar nanya "kalau sudah gini terus gimana, kalau sudah gitu terus piye ? dst, dst...".

Terus pas naik pesawat, duduk di kursi yang ada di kabin, langsung masangin sabuk pengaman kenceng, sekenceng-kencengnya. Oya, pas mau masangin sabuk pengaman itu, Kang Soegie sempet bingung banget, gimana cara masanginnya. Mau tanya ke bapak-bapak yang duduk disebelah, koq ya maluuu... Tapi, sepertina, bapak-bapak yang duduk di sebelah cukup mengerti dengan kegelisahan yang Kang Soegie rasakan.  Dengan senyum simpul penuh kebijaksanaan, dia membantu memasangkan sabuk pengaman, sambil ngasih tau cara memasangkannya ke pinggang. Beliau bertanya "mau kemana dek ? baru kali ini yah, bepergian jarak jauh ?", nah saat itu, lebih malu lagi rasanya. --koq banyak malunya ? ya iyalah... Kang Soegie kan orangnya pemalu...--

Didalam pesawat, sambil jantung berdebar-debar berdegup kencang, lutut gemeteran. Dalam hati teriak-teriak, "Omaygat.. aku mau terbaaaangggg... mau terbaaaanggg... mau melihat awan... gini yah, rasanya naik pesawat terbang itu." Pokoknya heboh dech. Tapi itu cuma dalam hati saja, luarannya tetep Kang Soegie duduk dengan manis, dengan cool. Cuma, kurang lebih sepuluh menit perjalanan, tangan menggenggam erat-erat pegangan kursi karena gugup dan takut...


16.40 | 3 komentar | Read More

Pada suatu hari...

Written By Kang Soegie on Jumat, 19 April 2013 | 21.55

ME : Aku sebetulnya capek dengan semua ini... dan aku ingin berhenti...
BF : Kamu yakin ? Apakah kamu bisa ?
ME : Entahlah... tapi Insya Allah.. kalau aku punya kemauan yang kuat... sepertinya aku akan bisa...
BF : Beneran tah ? Apakah kamu sudah benar-benar mantap dengan keputusanmu ?
ME : Insya Allah...
BF : ya silahkan... cobalah... mudah-mudahan kamu bisa... tapi bukannya saya mau under estimate... saya kurang yakin dengan niatmu ini...
ME : Kenapa ?
BF : Maaf... tapi ini maaf sebelumnya... mungkin kamu pantas sakit hati saat saya ngomong ini... kamu itu sedikit agak ngondek...
ME --menunduk sendu-- *dalam hati bergumam... "apakah hal tersebut mempengaruhi apa yang selama ini sempat aku jalani dan ingin aku akhiri ? senyata-nya... sungguh bukan mau-ku untuk tampil kemayu... dan, ini bukan dibuat-buat..."

o0o

Catatan : BF disini adalah singkatan dari Best Friend dan ngondek adalah sebutan untuk laki-laki yang kemayu... 


gambar source http://puisi-esai.com/2012/03/26/cinta-terlarang-batman-dan-robin/
21.55 | 0 komentar | Read More

Pencarian Sebuah Misteri

Hari demi hari yang dilalui
Takkan pernah kembali lagi
Senang tawa cuma jadi cerita
Sedih dan duka tinggal kenangan belaka.

Esok hari sungguh misteri
Apa yang akan terjadi, kita takkan pernah mengerti
Dan lalu mengapa kadang kita selalu ingin mencari ?
Arti dari semua misteri yang senyata-nya belum terjadi.

Entahlah... akupun tak mengerti..

21.07 | 0 komentar | Read More

Life is Beautiful

Written By Kang Soegie on Sabtu, 23 Maret 2013 | 01.52

Pada siang tadi, saya BC (Broadcast) di BBM, nawarin sebuah video klip --sssttttt video porn tentunya, biasa kan, menurut survey yang pernah diadakan, konon katanya pendududuk Indonesia adalah pengunjung situs porn tertinggi di dunia -- yang akan saya share dengan satu syarat yang menginginkan video tersebut harus me-LIKE dulu sebuah fan page facebook yang saya bangun dan sedang susah payah mencari pemirsa.

Alhasil, karena yang akan saya bagikan adalah video klip yang 'anget' --hehehehehe-- dan pesan BC yang saya sebar lumayan bombastic , maka temen-temen kontak BBM yang respon pun lumayan ramai. Maklum kan, seperti yang sudah disinggung di awal-awal, kita-kita ini kalau untuk soal yang 'anget-anget' pasti cepat responnya.

Dan saya-pun cukup disibukkan dengan membalas pesan BBM yang merespon BC yang telah saya share. Kan harus tanggung jawab yah, kalau kita BC maka kita harus konsekwen untuk segera membalas pesan-pesan yang dikirim kontak BBM yang kita kirimin BC. Mereka --para temen kontak BBM-- sudah mau meluangkan waktu mereka untuk membaca dan merespon BC yang kita sebar, dan sepertinya sebuah kewajiban dari kita untuk merespon balik mereka. Dan ceritanya, tadi siang saya cukup disibukkan membalas/melayani  pesan-pesan BBM yang merespon BC yang telah saya sebar padahal kerjaan kantor yang notabene adalah kewajiban utama pun sedang numpuk-numpuknya. Tapi temen-temen BBM kan tidak tau kalau saya sedang sibuk juga dengan kerjaan-kerjaan kantor. La wong salah saya sendiri, udah tau lagi sibuk dengan kerjaan kantor, koq ya malah broadcast-broadcast. Tanggung sendiri kan akibatnya !

Kembali ke cerita soal penawaran tentang video klip yang akan saya bagikan, mereka --teman-teman BBM-- sontak nagih video tersebut setelah beberapa dari mereka melaksanakan apa yang saya persyaratkan. Wajar lah, mereka menuntut hak mereka yang telah saya janjikan, dan lalu menjadi kewajiban saya yang haris segera tunaikan.

Diceritakan, karena video klip yang akan saya bagikan besaran memorinya melebihi dari batasan maksimal pengiriman file melalui BBM, maka saya janjikan kepada mereka --teman-teman BBM-- , kalau videonya akan saya kirim melalui media chat yang lain yang bisa kirim/terima file yang lebih besar. Nah, saya pun mencoba mengirim video tersebut ke satu-satu temen yang telah saya janjikan untuk dikirim video klip. Entah karena jaringan yang sedang trouble atau mungkin karena handset/gadget yang saya punyai memang performanya sudah tidak sebaik sebelumnya, alhasil kiriman-kiriman pesan berisi file video tersebutpun, gagal semua tiada ada yang terkirim. Beberapa teman kecewa, dan beberapa lainnya cuek-cuek aja. Tapi, ada satu teman saya yang sangat-sangat kecewa dengan tidak bisa terkirimnya file video itu. Dia eh beliau mencak-mencak dan mengganggap saya sebagai pembohong --wajar pasti yah, kalau beliau kecewa-- .

Beliau mengganggap kalau saya cuma sekedar mengejar LIKE dengan mengimingi-imingi janji palsu semata. Walaupun sempet saya memberikan opsi dengan mengirimkan file tersebut melalui e'mail, tapi beliau tetap pada perjanjian semula bahwa file tersebut harus dikirimkan melalui media chat yang sudah dijanjikan sebelumnya. Beberapa alasan/pembelaan/pembenaran dari saya tentang ketidak-mampuan saya dalam mengirimkan pesan melalui media chat tersebut sepertina tidak dengan mudah beliau terima. Bahkan beliau mengirimkan beberapa file sebagai sampling untuk membuktikan bahwa saling berkirim file melalui media chat tersebut bisa berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan yang bisa membuat pengiriman file failed seperti yang saya kuatkan sebagai alasan.

Well, dari pengalaman yang terjadi siang tadi, saya bisa memetik pelajaran bahwa apapun yang telah saya janjikan, saya harus berkonsekwen untuk menepatinya. Janji akan memberikan A melalui B, harus ditepati dengan memberikan A melalui B. Jangan sampai beralih menjadi melalui C. Saya jangan dulu berani berjanji, sebelum memastikan kalau saya memang benar-benar bisa menepati janji tersebut. Jangan menganggap remeh sesuatu hal karena merasa ada opsi.

Lalu mengapa saya memilih judul Life is Beautiful untuk cerita saya yang tak ubahnya curhatan ini ? Itu karena saya merasa Hidup Memang Penuh Dengan Keindahan !. Dari setiap apapun kejadian, bisa diambil banyak hikmah dan pembelajaran.

Bukan begitu kawan ? ^_^
01.52 | 3 komentar | Read More

Keikhlasan...

Written By Kang Soegie on Selasa, 05 Februari 2013 | 14.52

Ada pepatah konyol yang menjabarkan arti kata Ikhlas :

Ikhlas itu adalah seperti pada saat kita buang air besar... Seberapa mahalpun makanan yang telah kita makan, kita tidak merasa sedikitpun menyesal telah membuangnya...

Perumpamaan diatas memang konyol dan menggelikan, tapi secara harfiah, memang benar, itukan sebuah "Keikhlasan" ?

Tadi malam, sekitar jam 8an, pada saat Kang Soegie lagi enak-enak-nya leyeh-leyeh di tempat tidur sambil nonton tv, tiba-tiba pintu kamar kost ada yang ketuk. Ketika Kang Soegie buka, banyak bergerombol anak-anak muda dan salah seorangnya nyodorin map sambil berkata :"Maaf mas, kami dari pemuda banjar di belakang, mau minta sumbangan alakadarnya untuk ogoh-ogoh..." terus Kang Soegie tanya :"berapa yah ? yang lain gimana ? ngasih berapa mereka ?", yang nyodorin map menjawab :"serelanya mas, tapi biasanya sich sepuluh ribu...."

Dan Kang Soegie-pun mengambil dompet dan mengeluarkan uang lembaran lima ribuan dua lembar lalu menyerahkannya pada anak-anak muda tersebut. Relakah/Ikhlaskah Kang Soegie ? entahlah.. antara tidak ikhlas dan mencoba untuk mengikhlaskan/merelakannya berbaur tumpang-tindih.

Keikhlasan... sebuah kata kerja yang begitu mudah untuk diucapkan dan banyak terdengar oleh kita yang sering mengucapkannya. Lalu bagaimana dengan pengaplikasian Keihlasan tersebut dalam kehidupan sehari-hari ?

Dalam kehidupan sosial, apakah itu relation dalam bentuk pertemanan atau per"kasih"an antara dua orang atau lebih, sebuah ke'tulus'an yang dapat diartikan dengan ke'ikhlas'an, sepertinya telah menjadi absurd. Pastinya dengan atau tanpa kita sadari, kita selalu memilih teman itu karena ada apa-apanya yang bisa kita ambil manfaat. Dan jadilah, dalam setiap hubungan itu azas manfaat atau saling memanfaatkan pasti terjadi. Disadari atau tidak ! Lalu dimanakah letak ke'tulus'an dan ke'ikhlas'an ? Entahlah

Pada saat  kita menyumbang atau beramal, baik langsung ke personal ataukah ke tempat ibadah pada saat kita beribadah dan atau ke badan-badan amal/zakat, diakui atau tidak diakui, bukankah di relung hati kita selalu tersimpan harap bahwa apa-apa yang telah kita berikan akan mendapat balasan/imbalan. Lalu dimanakah letak ke'tulus'an dan ke'ikhlas'an ? Entahlah

Dan bahkan, sering terucap dari mulut-mulut orang tua bahwa kita mengurus anak-anak kita yang notabene adalah anak kandung kita, darah daging kita, seringkali terbersit harapan kelak suatu hari nanti, kita akan balik diurus oleh mereka, anak-anak kita. Bukankah itu juga berarti, kita mengharapkan pamrih ? sebuah imbalan ? Lalu, dimanakah letak ke'tulus'an dan ke'ikhlas'an ? Entahlah


14.52 | 0 komentar | Read More

Sadisme dan Nudisme Dalam Tayangan Televisi

Written By Kang Soegie on Selasa, 18 Desember 2012 | 00.33

Beberapa minggu yang lalu, Kang Soegie beli DVD --bajakan sich tongue-- , di seorang penjual DVD yang gelar lapak di pasar senggol deket kost'an. Pilih-pilih beberapa DVD film yang salah satunya adalah serial "Spartacus: Vengeance".

Kang Soegie pilih DVD film serial tersebut karena dari covernya menjanjikan keseruan sebuah tontonan. Oya, Kang Soegie kebetulan senang lihat film kolosal yang bersetting romawi kuno seperti serial "Spartacus" tersebut ini.

DVD tersebut yang dalam satu keping berisi 9 fillm, karena satu dan banyak hal gak bisa langsung Kang Soegie tonton. Baru sempet Kang Soegie tonton tadi malam, itupun baru satu dua judul dari rangkaian serial tersebut. Dan baru dari satu dua judul tersebut, Kang Soegie cukup tercengang dengan adegan-adegan yang di umbar di film tersebut. Hampir sepanjang film, darah berhamburan, berceceran muncrat sana-sini. Euphoria kesadisan begitu sangat kental. Dan satu hal lagi, begitu banyak bertebaran scene-scene yang mempertontonkan ketelanjangan secara full frontal. Kang Soegie sontak berfikir, andai film ini hadir di bioskop Indonesia pasti sudah habis di babat sana-sini oleh badan sensor.

Penasaran Kang Soegie pun googling untuk mencari informasi seputar film serial "Spartacus: Vengeance" ini, dan Kang Soegie makin tercengang saja. Menurut wikipedia.com, "Spartacus: Vengeance" ini adalah sebuah serial televisi produksi New Zealand yang di tayangkan oleh Starz. Dan serial tersebut ini adalah sesion kedua setelah "Spartacus: Blood and Sand". Bayangkan pemirsa... sebuah tayangan televisi... ckckckkckck

Kang Soegie tidak tahu dengan pasti apakah serial ini main di tv kabel atau tv satelite yang bisa di akses oleh pelanggan yang ada di Indonesia atau gak, soalnya kebetulan Kang Soegie tidak berlangganan tayangan televisi beriuran. Cuma saja, kalau sebuah tayangan televisi saja yang sudah begitu mudah di akses udah sarat dengan brutalisme dan ketelanjangan, bagaimana dengan tayangan di media lainnya ? Memang di setiap episode ada peringatan bahwa tayangan tersebut ini mengandung violence yang berat dan sarat dengan adegan yang di pertontonkan khusus untuk dewasa. Dan bagi penonton di bawah umur, disarankan untuk tidak menyaksikan tayangan tersebut tanpa dampingan dari orang tua atau orang dewasa. Peringatan tersebut mungkin kalau untuk penonton di luar negeri sana, bisa sangat efective, Kang Soegie tidak begitu tahu, tapi kalau untuk disini ? Jadi ingat dampak tayangan acara "SMACKDOWN" pada anak-anak...

Jadi berhati-hatilah, waspadai setiap tontonan atau tayangan yang akan sangat mudah anak-anak kita akses atau dapatkan...

Salam ^^
00.33 | 0 komentar | Read More

POSTINGAN PERTAMA DI KOMPASIANA

Written By Kang Soegie on Selasa, 18 September 2012 | 13.44

Sebetulnya udah beberapa bulan yang lalu Kang Soegie register di grup milis Kompasiana, dan resmi menjadi anggota KOMPASIONER, tapi sekian lama itu Kang Soegie belum pernah berani untuk posting apapun disana. Masih sangat ragu-ragu, soalnya Kang Soegie tahu diri banget kalau Kang Soegie tidak bisa menulis.

Lalu banyak hari yang lalu, Kang Soegie coba-coba urat-aret, ceritanya belajar bikin puisi gitu... Yah, kadang, kalau lagi gak ada kerjaan, daripada bengong gak karuan gitu di depan komputer, nanti ujung-ujungnya malah keluyuran ke situs-situs yang nggak-nggak , xixixixixi X___X , Kang Soegie pikir mendingan belajar urat-oret ajah, nulis nulis apa gitu, yang penting ngetik meskipun serabutan... LOL

Nha, pada tanggal 12 Sept 2012 Kang Soegie pas kebetulan lagi jalan-jalan di KOMPASIANA, terus Kang Soegie beranikan diri untuk memposting puisi hasil urat-oret Kang Soegie dengan judul BALADA SANG PENARI MALAM di KOMPASIANA, sambil merapihkan profile Kang Soegie (d/n Soegie Antok) di sana. Maklum sejak Kang Soegie register, akun Kang Soegie disana belum pernah di utak-atik, hehehehe...
Maka jadilah puisi tersebut menjadi posting pertama Kang Soegie di KOMPASIANA.

Kemarin (saat tulisan ini dibuat pada tanggal 18 Sept 2012), tepatnya Senin sore, Kang Soegie iseng mampir ke KOMPASIANA halaman FIKSIANA, eh puisi Kang Soegie ada dihalaman HOME :)





Dan hasil orat-oret Kang Soegie yang amburasut (amburasut sama dengan amburadul) , Alhamdulillah Puji Tuhan tenyata mendapat perhatian juga dari para KOMPASIONER lainnya, sampe dengan tanggal 18 siang tadi, puisi Kang Soegie tersebut memperoleh 923 viewers dan ada yang ngasih bintang... ^____^



mendapat beberapa koment juga dari KOMPASIONER lainnya... ^____^


Nha itulah pengalaman pertama Kang Soegie posting di KOMPASIANA.

Sobat-sobat, kunjungi juga hasil urat-oret Kang Soegie disana dan tolong kritisi, untuk menuju kesana, klik ajah disini....

Oke Sobat-sobat semua... Terimakasih... Salam ^^
13.44 | 0 komentar | Read More

PUISI GALAU

Written By Kang Soegie on Rabu, 29 Agustus 2012 | 20.12

BALADA KAIN SPREI

Sprei itu saksi bisu,
Waktu bahagianya hatiku,
Saat kau pinang diriku,
Dengan rantang warna ungu.

Sayang sprei itu sekarang tinggal kenangan,
Karna masih terlipat rapi di Pegadaian,
Disana sengaja kutitipkan,
Saat empat hari lima malam, kau tak kunjung hadir dihadapan.

Disini sekarang ku menunggu,
Dengan berjuta rindu yang menggebu-gebu,
Rindu pada sprei itu,
Karena cuma itu milikku satu...


Pada saat itu, di suatu tempat


20.12 | 1 komentar | Read More

MASIH PERLUKAH KITA MEMILIKI BANYAK GADGET CANGGIH ?

Written By Kang Soegie on Selasa, 14 Agustus 2012 | 15.42


Alhamdulillah, puasa udah berjalan ke hari yang ke 25. Itu tandanya sebentar lagi akan menyambut datangnya Idul Fitri alias Lebaran.

Lebaran, yang tinggal sebentar lagi, momentnya ditunggu ratusan juta umat muslim diseluruh jagat raya ini. Dan moment yang paling ditunggu oleh Kang Soegie serta kawan-kawan Kang Soegie yang berstatus karyawan pas Lebaran begini, apalagi kalau bukan THR alias Tunjangan Hari Raya. Saat pembagian THR adalah saat yang paling ditunggu siang dan malam. Betul tidak ?

Dan kalau udah menerima THR, senangnya bukan main. Kita bisa belanja-belanja untuk keperluan Hari Raya, belanja baju baru, sepatu baru, dan lain sebagainya yang baru-baru. Bahkan kalau memungkinkan belanja gadget baru.

Belanja gadget baru ? ya ! hal ini juga sering kita lakukan pada saat kita menerima THR. Mau dong, pas lebaran nanti saat keliling sungkem-sungkeman kita nenteng gadget terbaru yang canggih dan up to date. Itulah kenapa pusat-pusat penjualan elektronik dan gadgetpun --seperti halnya mall-mall yang pajang-pajang baju-baju indah dan bermerk-- tak kalah ramai dikunjungi orang pas jelang lebaran begini.

Punya gadget baru pas Lebaran nanti ? bangga banget !!!
Seperti halnya salah satu teman dekat Kang Soegie, dia baru saja menerima THR dan minta ditemani keliling-keliling ke Pusat Perbelanjaan untuk melihat-lihat dan mencari SMARTPHONE terbaru.
SMARTPHONE ? ya SMARTPHONE... paduan handset telepon dan komputer canggih nan mungil hingga bisa dengan mudah bisa dibawa kemana-mana.

Singkat cerita kamipun membawa pulang satu SMARTPHONE dengan merk ternama keluaran vendor asal Kanada yang tentunya harus ditukar dengan sejumlah uang yang lumayan banyak. Dan ternyata untuk mengaktifkan SMARTPHONE tersebut, si empunya harus memiliki alamat e'mail. Lalu Kang Soegie tanya, alamat e'mailmu apa ? dengan ragu dia jawab, untuk masuk ke Facebook ? Ini...
Keisengan Kang Soegie timbul, lalu tanya lagi... kamu punya akun yang lain gak ? dia jawab : TIDAK

Lalu Kang Soegie iseng-iseng tanya... Buat apa SMARTPHONE itu ? Teman Kang Soegie jawab untuk gaul di jejaring sosial seperti BBM dan Facebook.
Cuma untuk itu ? Tidak, dia bilang mau belajar gaul juga di Twitter seperti yang lain !.
Lalu untuk apa lagi ? , dia kembali jawab : ya gimana nanti !

oOo

Sobat-sobat, dari pengalaman yang Kang Soegie ceritakan, Kang Soegie cuma ingin berbagi "Kalau sekiranya cuma untuk beberapa hal yang tidak begitu memerlukan fitur-fitur dari berbagai macam gadget yang canggih, lalu untuk apa kita memilikinya ?". Bukankah tehnologi itu diciptakan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya ?

Bukan sebuah kesalahan kita memiliki komputer jinjing, smartphone, tablet dan gadget-gedget canggih lainnya, kalau kita memang memerlukannya untuk menunjang kita punya lifestyle. Pergunakan sebaik-baiknya fitur-fitur dari gadget-gadget canggih tersebut untuk semakin memudahkan kita dalam kehidupan. Apakah itu untuk pekerjaan atau untuk lainnya.

Tapi kalau misalkan kita atau pekerjaan kita tidak begitu memerlukan bantuan dari fitur-fitur gadget-gadget canggih tersebut, apakah bukan pemborosan kita mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit untuk memaksakan kehendak demi memiliki gadget-gedget canggih tersebut ? Apakah gak mubadzir kalau BB kita kelentang-kelenting bunyi cuma karena koment-koment'an di Facebook, atau kita nongkrong di Mall nenteng Tablet cuma untuk lihat-lihat timeline Twitter, atau bahkan cuma sebagai pengganti media player atau pengambil gambar ?

Tul gak kawan-kawan ? hehehehe...tersenyum lebar
15.42 | 0 komentar | Read More

Sang Bidadari Malam

Written By Kang Soegie on Jumat, 01 Juni 2012 | 18.15

Heningnya malam mulai menjelang,
Rembulan pun datang , sinarnya berpendar,
Bintang-bintang berpencar, seolah sudah mengerti posisi yang diharuskan,
Malam indah, malam yang cerah.

Hey lihat.. dipojokan sana bergerombol sekelompok bidadari malam,
Bergentayangan menawarkan sejuta keindahan,
Membawa secangkir madu, mengembangkan senyum nan menawan.

Geliat tawanya, lengket madu legitnya,
Seolah siap untuk direguk, siap untuk dipagut,
Bagi insan-insan penikmat kesenyawaan.
18.15 | 0 komentar | Read More

PUISI RINDU 2


Kala itu kau datang padaku dengan segudang rindu..
Kala itu kau hadir kehadapanku dengan cinta yang menggebu..
Kau cumbui aku, kau gauli diriku..
Kau gumuli tubuhku dengan tubuh licin berpeluhmu..

Saat jedah, sesaat ketika semua usai sudah…
Kau peluk bahuku, kau gumamkan sebait kata-kata indah..
Kau sandarkan kepalaku didadamu…
Dalam diam, kumerasa indah damai dihatiku…

Sesaat kemudian, kutersentak dari tidurku..
Kuterbangun dari mimpi-mimpi melenakanku..
Itu dulu… !!!! teriakku .
Ketika kau masih memerlukanku..
Untuk melampiaskan semburat hasrat libidomu…

Dan kini, dalam hening kusendiri..
Meringkuk disudut kamar, sepi mendera dalam diri..
Disini, disudut kamar ini kumeratapi diri..

Namun, seberkas asa masih terbit disini.. dihati ini..
Bahwa hadirmu, sungguh masih kunanti…

Puisi coretan Kang Soegie
18.09 | 0 komentar | Read More

HARUSKAH KU MERANA

Written By Kang Soegie on Kamis, 31 Mei 2012 | 19.03


Dalam diam terpana hening hampa.
Kuterpaku melayangkan hamparan sejuta asa.
Hening, hampa … tapi dalam hati menggelora membahana.
Membuncah-buncah laksana teringin meloncat dari dada.

Kutengadahkan wajah menatap cakrawala.
Mayapada terhampar begitu mempesona.
Kutatap laut hamparan kuasa Sang Pencipta.
Gunung-gunung begitu  Agung nan perkasa.

Sungguh dahsyat kuasa Sang Pencipta.
Menata mayapada dengan begitu detilnya.
Tapi mengapa hatiku selalu gundah gulana.
Meratap melirih-lirih dengan sejuta nestapa.

Mengapa kutak bisa merasa bahagia ?
Dengan segenap berkahNya yang selama ini kuterima.
Mengapa ? hatiku selalu menjerit-jerit penuh Tanya…
Haruskah ku merasa merana ??

Bali , 31 Mei 2012
19.03 | 0 komentar | Read More

Apakah Ini Rindu ????


Ku tahu apa yang kaurasakan ketika kau mencumbuku,
Bukan cinta kasih tapi nafsu yang memburu,
Ku tahu apa yang membawamu ke haribaanku,
Bukan segunung rindu tapi birahi yang menggebu...

Kala itu… ketika kau menggauliku…
Gelinjang penolakan kau anggap gelinjang geli kenikmatan,
Rintihan pedihku.. kau anggap sebagai lenguhan kegairahan,
Dan akhirnya akupun terseret  arus hentakan…

Ingin rasanya ku menjerit pada Tuhanku…
Ingin berteriak  sekeras-kerasnya yang aku mampu…
Tapi jeritanku tertahan deru  nafasku…
Dan kau pun menganggapnya bilur-bilur nan syahdu...

Dan lalu kaupun menghilang seolah ditelan gelapnya malam,
Semasa , dua masa ketiada’anmu aku rayakan…
Tapi kini... hadir sejumput rasa di perasaan,
Kuinginkan lagi hentakanmu itu…
Kumau’i lagi cumbuanmu itu…
Apakah ini sebentuk rindu ??
Kutak tahu.. dan sungguh kutak mau tahu…

Denpasar , 5 April 2012
15.41 | 0 komentar | Read More

4th Month Anniversary Kang Soegie Go Blog

Written By Kang Soegie on Senin, 28 Mei 2012 | 00.38

Pas tanggal ini, 4 bulan yang lalu, tepatnya tanggal 27 Januari 2012, Kang Soegie mulai belajar nge-Blog. Dimulai dengan membuat Blog DUNIA KITA DUNIA PENUH CINTA ini.

Tidak terasa, waktu terus berjalan, 4 bulan sudah Kang Soegie mencoba menekuni dunia blogging. Telah banyak hari Kang Soegie lalui, mulai dari begadang-begadang ampir setiap malam, tidak lain tidak bukan adalah niatnya untuk berusaha sekuat tenaga mencari bahan-bahan untuk konten Blog ini, biar bisa mendatangkan traffic. Insya Allah kalau sampai, traffic yang tinggi, tapi hal itu belum tercapai. Buktinya tante alexa , si pemberi rank untuk semua situs yang gentayangan di du-may aka Dunia Maya, blog DUNIAKU DUNIA PENUH CINTA ini, masih dianugerahi peringkat ke 14 juta sekian... Huhuhuhuhuhu, masih jauh untuk mencapai angka ribuan apalagi ratusan... hiks hiks :'(

Perjuangan, tidak sampai disitu, karena menginjak umur ke 4 bulan inilah, Kang Soegie sudah mulai merasa menemukan jalan yang benar, setelah bulan-bulan kemarin tersesat di jalan yang salah. Yang mana, yang Kang Soegie selalu utamakan adalah tampilan. Untuk perjuangan tampilan itulah, Kang Soegie bulan-bulan kemaren, gok bosan-bosannya bolak-balik mengganti templete dari DUNIA KITA DUNIA PENUH CINTA ini. Sampai tersesat, dan terseok-seok, mencari arah untuk kembali ke jalan yang lurus.

Dan juga, perjuangan masih harus berlanjut, karena ternyata dengan berjalannya waktu dan sedikit pengetahuan hasil berbagi dengan sesama penggiat blogger yang sudah lebih senior dan lebih jago, ternyata  masih banyak hal lainnya lagi yang harus dikerjakan selain memeras pikiran mencari ide dan bahan-bahan untuk konten postingan.

Yach, namanya perjuangan.....

Dan mudah-mudahan, Kang Soegie selalu diberi kesempatan untuk bisa terus menekuni dunia BLOGGING ini... Do'ain ya teman-teman.... :)

Oke akhirul kata, Selamat atas 4bulannya Kang Soegie Go Blog... ^-^
00.38 | 0 komentar | Read More

BALADA SANG PEJALAN KAKI

Written By Kang Soegie on Rabu, 16 Mei 2012 | 12.22

Prakata : "Kalau yang setia naik angkot, kemana-mana mempergunakan jasa angkot, orang-orang menyebutnya dengan sebutan ANGKOTERS , nha kalau pejalan kaki sejati, sebutannya apa ya ? entahlah... Kang Soegie tidak PAHAM , hehehe :-p "

Hidup memang penuh pilihan. Semuanya pasti meyakini hal itu. Selama kita hidup, selama itulah kita selalu dikasih pilihan untuk memilih cara dan bagaimana kita menjalani hidup. Tuhan sungguh Maha Pemurah dan Maha Adil, kita semua diberi pilihan untuk menjalani kehidupan. Mau kemana, mau bagaimana, terserah, yang penting setelah kita menentukan pilihan, mau gak mau kita harus menerima semua konsekwensi apapun dari pilihan yang kita ambil.
Dan dari semua pilihan , inilah pilihan yang Kang Soegie ambil... sebagai PEJALAN KAKI SEJATI :-)

Kita pasti mahfum, dari semua pilihan yang tersedia, pasti kita memilih apapun sesuai dengan kondisi dan keadaan hidup yang kita jalani. Kalau kita memilih apa yang tidak sesuai, Insya Allah, hidup kita akan terseret-seret pastinya. Dan dengan segala pertimbangan yang ada, maka Kang Soegie memilih sebagai PEJALAN KAKI... :D

Menjalani diri sebagai Sang Pejalan Kaki , di kota metro disebuah pulau yang terkenal dengan kepariwisataannya, sebetulnya cukup terpaksa Kang Soegie ambil sebagai option dalam menjalani hari-hari. Kenapa terpaksa ? yach, karena disini tidak tersedia public transport yang namanya ANGKOT. Ups, sorry... tersedia sich, tapi jarang dan agak sulit mendapatkannya. Tidak semua jalur, terjangkau oleh angkutan yang namanya ANGKOT itu. Public Transport yang banyak tersebar dan mudah didapatkan hanyalah TAXY ARGO. Tinggal telepon operator, nunggu bentar, datang dach. Tapi kalau kemana-mana naik Taxy, walah, walah, walah, bisa bangkrut betul-betul donk Kang Soegie. 
Orang yang super kaya ajah pastinya kemana-mana, ngehindari untuk naik Taxy.. --ya iyalah, kan mereka pasti punya mobil dan sopir, hehehehe-- , apalagi Kang Soegie. Belagu bener, kalau sampai kemana-mana pakai jasa Taxy.
Ada juga "OJEK" , tapi sama seperti halnya TAXY , agak berat diongkos... walaupun pastinya tidak semahal TAXY :-)

Jadi seorang Pejalan Kaki disini, kalau boleh Kang Soegie untuk jujur... cukup membuat Kang Soegie minder dan kesulitan. Minder, karena kalau lagi jalan, tungak tengok kiri kanan, jarang banget orang lain yang jalan kaki. Hampir semuanya mempergunakan kendaraan pribadi , motor umumnya. Maka dari itu, pas lihat di Legian (salah satu tempat paling populer di Bali) orang slewiran jalan kaki, Kang Soegie bangga, weh banyak temen, tapi sayangnya Kang Soegie gak tinggal di Legian. Sedangkan kesulitannya, karena kalau lagi nyebrang kadang merasa sangat sulit. Selalu merasa tidak diberi kesempatan untuk menyebarang. Para pengendara terutama motor sepertinya terlalu sibuk dan terburu-buru, hingga tak jarang tidak memperhatikan hak-hak para Pejalan Kaki. Apakah ini cuma perasaan Kang Soegie saja ? pastinya iya... :-(

Kembali ke masalah Pilihan Dalam Hidup, pastinya semua orang akan bilang dan bertanya : "kenapa Kang Soegie gak mencari kendaraan --motor minimal-- biar kemana-mana gampang dan enak, gak perlu menjadi Seorang Pejalan kaki lagi ?". Nah, itu dia masalahnya. Kang Soegie saat ini belum bisa untuk menjadi salah satu komunitas para pengendara di jalan raya. Kenapa ? Kang Soegie belum bisa memberikan alasannya sekarang. Yang jelas Kang Soegie masih mau menjalankan anjurannya salah satu produk susu kesehatan yang gembar-gembor di iklannya bahwa "Berjalan kakilah sehari minimal 1000 langkah untuk sehat" , dan Kang Soegie sehari-hari jalan kaki... Insya Allah sehat... --huhuhuhu, pembenaran dari ketidak mampuan untuk memiliki kendaraan-- .

Well, sebetulnya masih banyak hal dan uneg-uneg Kang Soegie sebagai Pejalan kaki, yang ingin Kang Soegie share disini. Tapi nanti takutnya kepanjangan dan bikin boring yang baca. Untuk itu, cukup dulu disini ajah dach ya, share-nya. Nanti kapan-kapan Kang Soegie share lagi cerita-cerita. Dan yang diharapkan ceritanya bukan lagi suka duka nya sebagai seorang Pejalan Kaki, soalnya ingin donk Kang Soegie tidak melulu sebagai Pejalan Kaki. Nantinya mudah-mudahan bisa punya mobil seperti orang lainnya. Atau minimal ada motor sendiri... xixixixixixixi , do'a-in ya... :-)

Oke, untuk sementara Kang Soegie pamit dulu. Jangan lupa untuk sering-sering mampir kesini, temenin Kang Soegie bercerita banyak hal, yach... yach...yach... dibantu yach... :D
12.22 | 0 komentar | Read More

HARI ITU

Written By Kang Soegie on Kamis, 10 Mei 2012 | 22.54

Rinai rinai tawa sejenak menjelma...
menghempaskan embun yang menitik dipelupuk...
Tapi galaunya hati masih mendera...
Tak kuasa untuk menjemput asa...

Hari itu….

Hari itu, kumulai kompromi dengan diri. Meskipun masih selalu bergumpal sesal dihati tapi aku sudah harus melanjutkan hidup dengan penuh arti.

Tapi tak sekonyong-konyong ku bisa melepaskan penyesalan diri, masih tersisa remah-remah rasa di dada, hinggap menyelinap didasar jiwa. Rasa terbedakan, rasa ternistakan.

Hal ini membuatku menjadi selalu bertopeng diri, tumbuh menjadi orang yang bukan diriku sendiri yang selalu menyembunyikan perasaan. Melapisi diri dengan benteng-benteng kokoh kemunafikan supaya sekeliling tidak tahu apa yang ada direlung hati.

Tak jarang diriku tertawa sekuat-kuatnya walaupun kejadian yang kulihat cuma lucu sekedarnya, terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata… ya, mengeluarkan air mata, menangis ketika sedang tertawa itu bukanlah hal yang luar biasa.. dan sekelilingpun menganggap itu sah-sah saja.

Hari itu, kudapati  seraut  wajah.  Jauh diseberang pandangan. Sederhana, tak ada istimewanya. Biasa tak ada kata lainnya. Tapi kenapa pandangan ini seolah enggan beranjak dari wajahnya. Yang terkesan polos bersahaja. Seolah tiada kepura-pura’an ketika senyum mengembang dibibirnya. Teduh , utuh tak terjamah kesan kemunafikan, yang selama ini kutemukan di wajah-wajah orang lainnya dan tak lupa juga selalu aku kenakan. Dalam keterpanaan tanpa sadar terlontar sebuah tanya : “Siapa orang itu, Rin ?” . Sang pemberi jawabanpun menengadahkan wajah, menatap sosok yang aku tunjuk lalu, dengan tak acuh dia menyebutkan sebuah nama sambil tertunduk melanjutkan kesibukannya.

Hari itu, mulai berpendar sebuah rasa ganjil disini. di jiwaku. Dihatiku. Didadaku. Mataku seolah enggan untuk berpaling dari wajahnya. Mataku seolah enggan untuk kehilangan senyum sederhananya. Seolah ingin kucopot saja kedua bola mataku ini, lalu kutempelkan diwajahnya. Agar tiada sedetikpun waktu yang terlewatkan untuk selalu memperhatikan dirinya.  Ketika mataku berkedip dan lalu kehilangan sosoknya, ada sebuah sesal menggumpal, dan lalu mataku berputar mencari-cari kemana dirinya pergi gerangan.

Hari itu, kumulai merasa kehilangan kalau tiada melihat dirinya. Berdiri didepan tembok itu, atau bersender didekat pintu itu. Setiap pagi ada rasa harap, kubisa melihat sosoknya. Setiap pagi kuedarkan pandangan untuk mencari kehadirannya. Dan kalau dia tiada nampak ada rasa rindu yang menghentak-hentak.

Dan hari itu, ya mulai hari itu, ada sebuah keinginan didiri. Menggejolak , menggeliat. Kuingin lebih mengenal sosoknya. Kuingin lebih tau dirinya. Kuingin lebih dekat dengan dirinya. Apakah aku mulai jatuh cinta ? entahlah… aku gak berani memastikannya…….

22.54 | 0 komentar | Read More